Asal-usul Baja Ringan, Baca Ini Dulu

Penggunaan baja ringan sebagai unsur utama pembuatan rangka atap kini memang sedang digalakkan oleh oleh para pengembang properti.  Para pengembang ini memiliki banyak alasan mengapa baja ringan jauh lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan rangka yang menggunakan kayu.  Di Indonesia sendiri, baja ringan masih belum terlalu familiar karena masyarakat masih lebih banyak menggunakan kayu sebagai bahan utama.

Sebenarnya, kapan pertama kali baja ringan diperkenalkan di dunia?  Dari mana asal baja ringan?  Berikut fakta-fakta tentang baja ringan yang berhasil dihimpun.

Berdasarkan catatan sejarah, sebelum ada baja ringan, besi adalah unsur pertama yang ditemukan oleh masyarakat dunia.  Besi ditemukan pertama kali oleh Bangsa Het atau Bangsa Hittite yang tinggal di Anatolia pada tahun 1.500 SM.  Anatolia ini masuk ke dalam gugusan Asia Kecil.  Tidak hanya menemukannya saja, Bangsa Het ini bahkan menemukan cara untuk meleburkan besi tersebut.  Namun karena takut besi-besi itu dicuri oleh bangsa lainnya, Bangsa Het sengaja merahasiakan temuan tersebut dari masyarakat dunia lainnya.

Teknik peleburan besi tersebut baru diketahui pada tahun 1.100 SM oleh Bangsa Yunani, Romawi, Yahudi, Mesir dan Asiri.   Kemudian, seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, pada tahun 400-500 M, Bangsa Eropa menemukan logam jenis lain dari besi, yakni baja.  Pada masa kepemimpinan Fatimiyah, Bangsa Eropa kembali menemukan logam lain dari besi, yang dikenal dengan nama Damaskus.

Waktu terus berlalu, pada tahun 1.300 masehi, teknik peleburan besi menjadi baja dan damaskus ini terabaikan dan akhirnya menghilang.  Baru sekitar 400 tahun kemudian, bangsa Eropa berlomba-lomba untuk meneliti ulang, kemudian mengaplikasikan teknik membuat baja dari nenek moyang mereka tersebut.  Namun masih belum dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.

Setelah Perang Dunia II berakhir, barulah penggunaan rangka baja ringan ini mulai dikenal oleh masyarakat karena banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.  Agar rumah bisa cepat selesai dan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar, mereka menggunakan struktur baja ringan.  Setelah itu penggunaan baja ringan secara komersil untuk pembuatan rangka atap semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin mengglobal.

Kendati demikian, rangka baja ringan untuk atap ini baru masuk dan dikenal oleh masyarakat Indonesia pada akhir tahun 1999 hinggga 2000.  Semakin berkembangnya teknologi, desain rangka atap baja ringan ini juga semakin berkembang.  Kuda-kuda baja ringan untuk saat ini ada yang berbentuk U atau pun I.  Pada umumnya, ketebalan kuda-kuda atap baja ringan sekitar 0,45 milimeter hingga 1,00 milimeter.  Sedangkan untuk kolomnya, sekitar 1,00 milimeter hingga 2,00 milimeter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *